Jumat, 15 Mei 2026

EKLIPTIKA TELUKNAGA


TARIAN TERAKHIR DI JALUR EKLIPTIKA


Selama jutaan tahun, planet ini menjadi panggung bagi ambisi kehidupan, dari akar pohon purba yang mencengkeram bumi hingga kepakan sayap burung yang membelah awan. Manusia  menghuni dunia yang riuh oleh kicauan, auman, dan bahasa manusia yang berbeda, seolah keberadaan setiap spesies adalah pusat dari segalanya. Kita melihat ke langit dan membayangkan bahwa kehidupan—dengan segala kerumitan sel dan denyut jantungnya—adalah sesuatu yang istimewa dan abadi. Namun, di luar batas udara yang kita hirup, kehangatan biologis ini tidak berarti apa-apa. Di sana, kehidupan hanyalah debu organik yang menunggu untuk disapu oleh keteraturan yang tak punya perasaan. Sebab. Alam semesta tidak mengenal kata kasihan. Ia hanya mengenal hukum fisika yang dingin dan orbit yang pasti. Ia tidak berdenyut. Ia menghitung.

Di kedalaman ruang hampa, sebuah batu purba bernama 1999 AN10 sedang menyelesaikan putaran terakhirnya. Ia tidak membawa pesan damai. Ia tidak punya mulut untuk berjanji. Ia hanya punya massa, dan massa adalah takdir. Ia hanya membawa gravitasi yang haus akan kehancuran. Dentumnya belum terdengar, tapi semua telinga sudah berdenging. Langit yang biasanya biru kini memutih. Bukan karena awan. Tapi karena cahaya kematian yang merayap pelan dari ufuk, menyeret bayang-bayang kota seperti kain kafan yang dijemur.

Selama ribuan tahun, manusia menatap bintang untuk meminta harapan. Kini, mereka menatap langit dengan dendam. Dengan mata yang memerah, dengan sumpah serapah yang patah. Seperti detik ini di menara-menara kaca kawasan Pantai Indah Kohod 18, para ilmuwan menyebutnya sebagai 'Anomali Ekliptika'—sambil menghitung detik di layar yang berkedip, sambil menelan ludah yang terasa seperti pasir. Di mimbar-mimbar kota, para pengkhotbah menyebutnya 'Murka Tuhan'—sambil menyembunyikan tremor di tangan yang memegang kitab.  Namun di sebuah warung kopi di pesisir Teluknaga, di bawah lampu 5 watt yang berkedip seperti napas terakhir. Batu raksasa itu hanyalah sebuah pengingat bahwa di hadapan maut, semua manusia kembali menjadi debu yang sama—tak peduli seberapa tebal dompet digital mereka, tak peduli seberapa banyak amal sosial mereka.

 Udara jadi murah. Tapi napas jadi mahal. Karena setiap tarikan adalah hutang yang sebentar lagi ditagih lunas oleh pemilik langit. Dunia sedang bersiap untuk mati, tapi birokrasi menolak untuk berhenti. Lembaran disposisi masih harus naik-turun meja. Tinta stempel masih harus mengering. Seolah cap basah bisa menahan tumbukan 20 kilometer per detik. Karena sebelum roket terakhir meninggalkan gravitasi, harus ada stempel yang di cap, materai yang ditempel, dan keadilan yang (mungkin) diperjuangkan untuk terakhir kalinya—atau dikubur bersama semua arsip di ruang bawah tanah. Tidak ada yang selamat. Hanya ada yang didahulukan. Dan ada yang ditinggalkan untuk menghitung retakan di langit-langit, menunggu langit-langit itu sendiri runtuh.

Selamat datang di akhir zaman. Di sini, do’a-do’a dan surat berharga sama-sama tidak berlaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

EKLIPTIKA TELUKNAGA

TARIAN TERAKHIR DI JALUR EKLIPTIKA Selama jutaan tahun, planet ini menjadi panggung bagi ambisi kehidupan, dari akar pohon purba yang me...