TARIAN TERAKHIR DI JALUR EKLIPTIKA
Selama jutaan tahun, planet ini menjadi panggung bagi ambisi
kehidupan, dari akar pohon purba yang mencengkeram bumi hingga kepakan sayap
burung yang membelah awan. Manusia menghuni dunia yang riuh oleh kicauan, auman,
dan bahasa manusia yang berbeda, seolah keberadaan setiap spesies adalah pusat
dari segalanya. Kita melihat ke langit dan membayangkan bahwa kehidupan—dengan
segala kerumitan sel dan denyut jantungnya—adalah sesuatu yang istimewa dan
abadi. Namun, di luar batas udara yang kita hirup, kehangatan biologis ini
tidak berarti apa-apa. Di sana, kehidupan hanyalah debu organik yang menunggu
untuk disapu oleh keteraturan yang tak punya perasaan. Sebab. Alam semesta tidak mengenal kata kasihan. Ia hanya mengenal
hukum fisika yang dingin dan orbit yang pasti. Ia tidak berdenyut. Ia
menghitung.
Di
kedalaman ruang hampa, sebuah batu purba bernama 1999 AN10 sedang menyelesaikan
putaran terakhirnya. Ia tidak membawa pesan damai. Ia tidak punya mulut untuk
berjanji. Ia hanya punya massa, dan massa adalah takdir. Ia hanya membawa gravitasi
yang haus akan kehancuran. Dentumnya belum terdengar, tapi semua telinga sudah
berdenging. Langit yang biasanya biru kini memutih. Bukan karena awan. Tapi
karena cahaya kematian yang merayap pelan dari ufuk, menyeret bayang-bayang
kota seperti kain kafan yang dijemur.
Selama
ribuan tahun, manusia menatap bintang untuk meminta harapan. Kini, mereka
menatap langit dengan dendam. Dengan mata yang memerah, dengan sumpah serapah
yang patah. Seperti detik ini di menara-menara kaca kawasan Pantai Indah Kohod
18, para ilmuwan menyebutnya sebagai 'Anomali Ekliptika'—sambil menghitung
detik di layar yang berkedip, sambil menelan ludah yang terasa seperti pasir. Di
mimbar-mimbar kota, para pengkhotbah menyebutnya 'Murka Tuhan'—sambil
menyembunyikan tremor di tangan yang memegang kitab. Namun di sebuah warung kopi di pesisir
Teluknaga, di bawah lampu 5 watt yang berkedip seperti napas terakhir. Batu
raksasa itu hanyalah sebuah pengingat bahwa di hadapan maut, semua manusia kembali
menjadi debu yang sama—tak peduli seberapa tebal dompet digital mereka, tak
peduli seberapa banyak amal sosial mereka.
Selamat datang di akhir zaman. Di sini, do’a-do’a dan surat berharga sama-sama tidak berlaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar